Welcome to my blog

Saturday, 19 January 2013


Awan Kelabu

Hamparan permadani hijau peternakan Didi tiba-tiba seperti tertutup awan kelabu kehitaman. Didi kaget dan berusaha untuk tidak mau memercayai bahwa itu pertanda musibah.Suara lenguhan sapipun mulai terdengar riuh-rendah memekakkan telinga Didi. Dengan langkah tak beraturan, degup kecemasan yang tiada henti, Didi bergegas membuka rumah sapi-sapinya. Sapi-sapi itu berlari hilir mudik."Astagfirullah, apa yang terjadi dengan sapi-sapiku?Tuhan, kasihan sapiku ini.Apa yang tengah mereka rasakan?."
Didi terduduk, tertunduk, dan pelan-pelan menyentuhkan kepalanya, keningnya,bersujud ke tanah sambil tak hentinya mulutnya berucap istigfar. 
"Kakak, lihaaat! Sapi-sapi kita jatuh terjerembab." teriak Susan adik Didi satu-satunya.Susan baru saja selesai mengikuti UN SMA-nya, tetapi dia tidak berniat melanjutkan sekolahnya tahun ini. Kecintaan pada peternakan sudah melekat erat pada dirinya, apalagi Susan mengetahui Didi kakaknya sedang perlu biaya banyak untuk kuliahnya.Susan berfikir, biarlah dia mengalah dulu buat sementara untuk keberhasilan kakaknya yang hanya menunggu proposal penelitiannya diterima. jika sudah diterima, tentu kakaknya akan dengan segera menggarap skripsinya.
Teriakan Susan menyentakkan istigfar Didi.Didi bersegra mendekati Susan untuk bersama melihat hal yang menimpa sapi-sapi tersebut.Hampir separo dari sapi-sapi yang mereka miliki tergeletak lunglai.
"Kakak, kasihan sapi-sapi kita. Siapa yang menganiaya mereka Kak?",ujar Susan agak berprasangka dengan isakan yang tak ubahnya anak ingusan ditinggal ibunya.
"Tenang, kamu tidak baik berprasangka begitu, dan jangan menangis. Kita selidiki dulu." Didi coba membujuk adiknya.
"Kakak, kita harus lapor ke polisi, Kak!", sergah Susan menimpali bujukan kakaknya.
Didi masuk ke rumah sapinya diikuti Susan yang masih saja merengut meminta Didi melaporkan hal itu ke polisi.Sebetulnya, kesedihan serupa tergurat jelas di wajah Didi, akan tetapi dia sembunyikan di balik keluasan tawakalnya kepada sang Khalik yang ia yakini akan memberinya jalan keluar. Didi amat yakin, pasti ada jalan keluar.
Didi coba merasakan denyut nadi satu demi satu sapinya yang lemas tak bergerak itu."Alhamdulillah, Dik! Sepertinya sapi-sapi kita hanya lemas saja.", ucapnya memberi tahu Susan.
"Kakak, yakin?", balas Susan tak percaya karena Susan baru saja terpegang sapi yang tubuhnya sudah dingin seperti es, "lihat ini Kak, apakah yang seperti ini dapat dikatakan hanya lemas saja?", sambungnya menimpali ucapan kakaknya.
Dengan sangat hati-hati Didi menyentuhlembutkan telapak tangan kanannya ke tubuh sapi yang dimaksud Susan. Hatinya mengakui bahwa Susan benar juga. Sapi yang dimaksud Susan memang sudah kehilangan nyawanya.Itu sapi yang sangat disayang Susan di antara sapi-sapi yang lain.Semoga Susan tabah dan dapat menerima kepergian sapi kesayangannya.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun!" ,desah Didi sedikit agak keras, sengaja dikeraskan agar adiknya mengetahui bahwa sapi yang akrab disapanya 'meikoi' telah tiada.
"Apa yang terjadi dengan Mekoi Kak?Mengapa Kakak mengucap 
Innn... .". Tangis Susan sudah tidak terbendung lagi, " Mekoi tidak boleh mati, Kak! , tidak boleh matiii."
"Ya, tenanglah.Kakak sudah menelfon rumah sakit hewan dan meminta ambulan juga dibawa serta untuk menyelamatkan sapi-sapi kita ini, Dik! ". 
"Benar ya Kak, Mekoi tidak mati???", ulang Susan coba meyakinkankan dirinya bahwa sapi kesayangannya itu masih hidup.
Saat Mekoi diangkat ke ambulan, Didi menerima telfon dari dosen pembimbingnya.Tubuh Mekoi tertahan sebentar.Rupanya telfon itu memberitahukan bahwa proposal penelitian Didi ditolak dan dosennya meminta Didi mengkaji ulang proposal tersebut."Masya-Allah, apa maksudnya dengan semua ini ya Allah?"
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Didi seperti dapat petunjuk.Petunjuk itu berkata kepadanya"Jadikan peristiwa ini sebagai obyek penelitianmu!"
"Kakaaak, Mekoi tidak boleh mati." 
"Tidak, Dik. Mekoi tidak akan mati.Kalaupun ia mati, ia akan hidup dalam penelitian kakak.Penelitian tentang Mekoi kita harap dapat mengantarkan kakak meraih gelar sarjana.Kamu dengarkan ucap dokter yang memeriksa Mekoi?Sepertinya Mekoi termakan rumput yang salah."
Mendengarkan penjelasan Didi, Susan hanya diam.Susan tersadar, ia tidak boleh mengatakan 'Mekoi tidak boleh mati'.Apalagi, kematian Mekoi dapat mangantar kakaknya meraih gelar sarjana. 
Meskipun Didi sudah jauh meninggalkan peternakan, Didi dapat melihat awan kelabu kehitaman yang menutupi peternakan itu sudah tak ada sama sekali.yang ada hanyalah peternakan hijau berpayung langit biru.


*Cerpen ini dimuat dalam lomba mading Hari Peternakan Universitas Andalas, dimana SMAN 2 Padang menjadi juara


No comments:

Post a Comment