Permadani hijau membentang luas, bukit-bukit terhampar luas dan padang rumput yang indah. Disanalah letak sebuah kampung yang kehidupannya sangat tentram. Penduduk itu jauh dari kata layak, terbelakang, tanpa sebuah kata “Pendidikan”. Disanalah Amanda dan keluarganya menghabiskan sisa hidupnya. Sejauh mata memandang, terlihat indah sebuah desa yang sangat maju dan berpendidikan di ujung sana. Tetapi, kebiasaan jelek desa itu adalah sering membuang buku-buku bekas di kampung Amanda.
Suatu malam, “Bu, besok adalah hari ulang tahunku dan aku sangat bahagia karena sebentar lagi aku akan masuk sekolah” Ujar Amanda. “Sekolah? Apa yang kamu pikirkan? tahukah kamu sekolah itu apa? Hanya untuk menghabiskan uang, fikiran, dan waktu. Lebih baik kamu menjadi seorang petani,lahan disini luas” Bentak Ibu. “Tapi…” “Hah, sudahlah sekarang kamu tidur, jangan pikirkan tentang sekolah itu!” Sambung Ibunya.
Fajarpun datang, sang bulan telah berganti dengan sang matahari. Tapi, pemandangannya tertuju pada sebuah perbatasan kampung mereka. Terlihat sebuah truk besar yang membuang berpuluh-puluh benda berbentuk kotak, penuh dengan tulisan yang biasa kita sebut buku,sang gudang ilmu.
“Bu, aku keperbatasan dulu !” Teriak Amanda. “Untuk apa?” “Pergi ke ladang” Teriaknya. Amanda terpaksa berbohong karena, jika dia memberitahu yang sebenarnya, dia takkan diberi izin. Setiba di perbatasan, semua perkiraannya benar. Buku-buku berserakan disana dan terlihat sedikit bekas. “Pak, buat apa buku-buku ini Bapak buang kesini?” Tanyaku. “Hai nak, buku-buku ini sudah terlalu bekas untuk kami, kami tak lagi membutuhkannya!” Ejek Bapak itu. Tanpa berpikir panjang, Amanda mulai mengumpulkan buku-buku itu. “Semoga dengan buku bekas ini, aku dapat belajar” Ujarnya.
Dari sana dia tak berfikir untuk pulang, karena dia tahu, jika di bawa pulang orang tuanya akan membakar buku-buku itu. Dia mulai menuju ke tengah perkebunan, disana terletak sebuah rumah kosong. Di sanalah Amanda mengumpulkan buku-buku itu. Orang tua Amanda tak pernah memberi motivasi untuknya agar bersekolah. Tapi, ia sangat menginginkan pendidikan itu. Amanda ingin memajukan pendidikan di kampungnya itu walau harus berbohong kepada orang tuanya.
“Mungkin, itu semua mimpi yang sangat tinggi, apakah aku bisa melakukanya?” Pikirnya.Karena pertanyaan itulah Amanda meminta bantuan teman-temannya untuk membantu membuat sebuah rumah buku. Kalian tau rumah buku itu apa? Kita mengenalnya dengan nama perpustakaan,Tapi Amanda tak mengetahui nama itu.
Seminggu telah berlalu, dan akhirnya sebuah rumah buku yang lumayan indah berdiri ditengah perkebunan itu. “Kak, aku ingin belajar!” Ujar anak-anak di Kampung itu. “Tapi, mama tak memperbolehkannya!” Teriaknya. “Mungkin ini usul yang kurang bagus, tapi mau tak mau kamu harus melakukannya untuk mendapatkan ilmu itu!” Jawab Amanda. “Ya, kami akan berusaha. Apa yang harus kami perbuat?” Tanya mereka. “Maukah kau berbohong untuk tidak mengatakan keberadaan rumah buku ini dan tidak mengatakan bahwa di rumah ini muncul Pendidikan. Aku mohon” Ujarnya. “Baiklah”.
Hari demi hari anak-anak di Kampung itu belajar, meski dengan kebohongan. Perasaan curigapun muncul dipikiran orang tua mereka karena anak mereka selalu pulang sore dan tak mau membantu mereka bertani. “Lebih baik kita mata-matai mereka!” Ujar salah satu orang tua. “Ya, benar” Jawab mereka serentak.
Keesokkan harinya, permasalahan mulai muncul saat Amanda sedang mengajar mereka. Kumpulan orang tua yang memasang wajah curiga mendatanginya. “Apa-apa an ini ! kenapa rumah ini penuh dengan buku!” Teriak para orang tua. Merekapun marah dan membakar rumah itu. Semua anak-anak itu hanya bisa diam terpaku melihat peristiwa itu. Air mata jatuh membasahi pipi Amanda yang penuh debu. Kekecewaan yang menyesakkan dadanya. Semuanya sia-sia tak kan ada lagi rumah buku dan ilmu itu di Kampung mereka.
Tiga tahun berlalu, tanpa pendidikan yang mereka dapat. Tiba – tiba saat Amanda duduk termenung di perbatasan itu sambil menanti kedatangan buku-buku bekas itu, ia didatangi seorang lelaki berwajah intelek dan bersikap bagai orang yang berpendidikan. “Hai nak! Ada apakah gerangan yang membuat kamu bersedih?” Tanya lelaki itu. “Bolehkah aku bertanya?” “Ya, silahkan” “Apakah pendidikan itu penting? Apakah yang terjadi jika tak ada pendidikan?” Tanya Amanda. “Baiklah Bapak akan mnejawab. Pendidikan itu penting, seperti pentingnya makanan bagi kita. Tak kan ada gunanya hidup ini jika dilalui tanpa ilmu. Manusia akan bodoh” Jawabnya. Pertemuan mereka singkat, lelaki yang tak dikenal itu pergi, lama kelamaan menghilang dari daerah itu.
Waktupun berlalu, sang fajarpun hilang ditelan gelapnya malam. Amanda pun pulang. Tapi, setiba di rumah Amanda terkejut melihat sesosok lelaki yang ia temui tadi diperbatasan sedang bercanda tawa dengan orang tuanya. Amanda tak mengacuhkan lelaki itu, dia langsung menutup pintu kamarnya. Senda gurau orang tuanya terdengar ditelinganya. Mereka begitu akrab. Karena begitu lelah, ia pun terlelap.
Sang fajar mulai menyinari pagi itu, tapi Amanda belum juga bangun. Tepat pukul 09.00 pagi, hiruk pikuk dan canda tawa terdengar memekakkan telinga dan membangunkan Amanda dari tidur lelapnya. Dia mulai membuka jendela dan melihat para warga kampung membawa berbagai macam buku dan peralatan menulis menuju keperkebunan. Amanda terkejut dan segera berlari menuju perkebunan itu.
“Hai kak, bukunya bagus-bagus ya. Terima kasih banyak” Ujar mereka. “Buku? Dapat dari mana” Tanya Amanda. “Dari rumah buku kampung kita” “Bukankah sudah terbakar” “Benar, tapi ada rumah buku baru, bagus bukunya juga banyak dan baru semua. “ Ujar mereka. Amanda semakin penasaran, bengkak di matanya telah berkurang karena menagis semalam. Bibirnya yang pudar, mulai tersenyum. Dari kejauhan dia melihat rumah buku itu penuh dengan sorak gembira para warga. Diujung rumah terlihat lelaki yang ditemuinya kemaren itu. Sambil memberikan senyuman tipis dibibirnya. Mimpi Amanda untuk mempunyai sebuah rumah buku sekarang menjadi kenyataan.
Hari demi hari kampung itu mulai dibanjiri ilmu berkat bantuan seorang lelaki itu. Anak-anak dan para orang tua sudah mulai bisa membaca, dan menulis. Tak ada lagi buku usang, yang ada hanyalah buku-buku baru yang penuh dengan pengetahuan. Bencana mulai menerpa kampung itu lagi. Saat Amanda mengajarkan para warga untuk membaca, tiba-tiba ia terjatuh dan pingsan.
Amanda pun dibawa ke Rumah Sakit. Orang tua Amanda hanya berpikir, bahwa Amanda hanya kecapek an. Tapi tuhan berkehendak lain, Amanda pergi untuk selamanya. Mungkin itu sudah ajalnya. Amanda meninggal dengan senyuman kecil di wajahnya. Kabar itupun di beritakan ke Kampung itu.
Suara angin tak terdengar lagi, kicauan burung berhenti. Kampung itu bagaikan diterpa bencana yang sangat dahsyat. Para wargapun turut berduka atas kepergian Amanda. Untuk mengenang jasa Amanda yang telah memberikan motivasi betapa pentingnya sebuah ilmu di kampung mereka, Masyarakat pun membangun sebuah patung dan lukisan di depan gerbang Rumah Bukunya. Rumah Buku Amanda, mungkin itulah penghargaan terakhir yang bisa mereka berikan kepada Amanda yang telah tiada.
